Terdapat ralat dalam alat ini

Isnin, 15 November 2010

Kemana Matahari dan Hadis untuk kita.

I have not slept — And even if You drive me from your door, I swear again that we will never be separated. Because You are alive in my heart.

Rasulullah s.a.w bersabda:
3 orang manusia yang diberi pahala 2 kali:
1- seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan sempat hidup pada zaman Nabi Muhammad s.a.w, lalu beriman kepadanya, mengikuti dan membenarkannya, nescaya dia mendapat dua pahala.
2- seorang hamba yang menunaikan kewajipannya terhadap Allah s.w.t dan kewajipannya terhadap tuannya, nescaya dia juga mendapat dua pahala.
3- seseorang yang mempunyai hamba perempuan, dia memberinya makan dengan baik, mendidiknya dengan baik, lalu memerdekakannya serta mengahwininya, maka dia juga mendapat dua pahala.
(Hadis Abu Musa r.a)

*zaman ini rasul telah tiada, hamba sudah mansuh. mana bahagiannya untuk kita? berikut sebuah hadis yang merujuk kepada ummat ini yang rasul tidak bersama semasa hidupnya. sabda Rasul:

"Beruntunglah 1x mereka yang melihat aku dan beriman kepadaku"
"Beruntunglah 7x mereka yang tidak melihat aku dan beriman kepadaku."

Makna iman kepada rasul itu adalah merangkumi beriman terhadap segala petanda akhir zaman. Sebagaimana sebuah hadis menyatakan Isa AS akan dibangkit kembali sebagai meneruskan perjuangannya sebagai utusan Allah kali kedua. Kehadiran kembali Rasul yang tidak berbapa itu diragui sekelompok kaum beriman walau ianya sudah jelas didalam hadis soheh. lebih menghairankan mereka yang mendakwa mempunyai pengetahuan tentang agama cuba mentafsirkan hadis kedatangan Isa AS sebagai simbol sahaja.

Rasulullah s.a.w bersabda: Demi Allah! Sesungguhnya telah hampir masanya Nabi Isa bin Mariam turun kepada kamu untuk menjadi hakim secara adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi serta tidak menerima cukai dan harta akan melimpah, sehinggalah tidak ada seorang pun yang ingin menerimanya.
(Hadis Abu Hurairah r.a.

Timbul persoalan dari hadis diatas;
Babi manakah yang akan dibunuh Isa AS? Apakah babi itu berdosa sehingga mahu dibunuh?
apakah tiada kerja yg lebih mulia kepada seorang nabi dari membunuh babi(atau maksud babi itu adlh Yahudi-zionis)?
Baginda Isa kelak turun menjadi hakim yang adil dengan syariat Muhammad SAW.


sebagaimana judul post tahukah kamu ke mana matahari ini pergi disaat telah habis usianya?

Rasulullah SAW pernah bertanya sahabat, kemana matahari itu pergi?
Para sahabat menjawab: Allah dan RasulNyalah yang lebih mengetahui.
Lantas Rasulullah s.a.w bersabda: Perjalanan matahari ini berakhir di suatu tempat yang telah ditetapkan di bawah Arasy, lalu merebahkan diri untuk bersujud. Ia tetap berada dalam keadaan tersebut, sehinggalah diperintahkan kepadanya: Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang. Matahari kemudiannya kembali sehinggalah ia terbit dan beredar sebagaimana biasa.

Matahari terus beredar lagi sehingga sampai di suatu tempat yang ditetapkan di bawah Arasy lalu merebahkan lagi dirinya untuk bersujud. Ia juga tetap berada dalam keadaan demikian sehinggalah diperintahkan kepadanya: Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.

Matahari kembali lagi sehinggalah ia terbit dan beredar sebagaimana biasa tanpa diketahui oleh manusia dan berakhir pada tempat yang telah ditetapkan di bawah Arasy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan demikian, sehinggalah akhirnya diperintahkan kepadanya: Bangunlah dan terbitlah dari sebelah barat.

Rujukan kepada pakar astronomi harus dilihat terhadap pergerakan matahari dan apakah dakwaan mereka terhadap gambaran hadis diatas.

Rasulullah s.a.w terus bersabda: Tahukah kamu bilakah ianya akan berlaku? Ianya akan berlaku ketika mana لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا Yang bermaksud: Tidak berfaedah lagi iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau tidak berusaha melakukan kebaikan terhadap imannya.

semoga ada sedikit manfaat untuk diri sendiri dan pengkaji.

Isnin, 28 Jun 2010

Hujah maut al-qadhi baqillani....

I have not slept — And even if You drive me from your door, I swear again that we will never be separated. Because You are alive in my heart.


*Masuk melewati pintu rendah dengan mundur,
*Menemui Raja Romawi dengan baju yang bagus, sorban serta selendang. Allah Subhanahu wata'ala telah mengangkat kami dengan Islam dan memuliakan kami dengan Nabi kami Muhammad SAW.
*Khawatir di meja makan ada daging babi.
*Beliau mengiris kakinya sehingga terluka kerana musik.



1- Rasul saw membelah bulan??

Raja bertanya bagaimana pendapatnya tentang hal itu?

beliau berkata, "Menurut kami itu benar, bulan pernah terpecah pada masa
Rasulullah SAW, dan orang-orang yang boleh melihat hal itu adalah orang-orang yang hadir ditempat kejadian dan tidak terlindung dari awan."

Raja berkata, "Bagaimana hal itu tidak dilihat oleh semua orang? "

Saya menjawab, "Karena orang-orang tidak berada pada saat yang sama ketika
terbelahnya bulan dan tidak menghadirinya" .

Raja berkata, "Antara kalian dan bulan itu ada hubungan atau kedekatan,
kenapa orang Romawi dan orang lainnya tidak mengetahuinya? Hanya khusus
dilihat oleh kalian saja, padahal kalian sudah tahu bahwasanya bulan berada
di langit yang bukan dikhususkan untuk kalian?"

Saya berkata, "al-Maidah(hidangan langit), ketika Hawariyyun meminta
kepada Isa 'AS agar memohon kepada Allah untuk diturunkan
makanan kepada mereka. Terjadi perselisihan tentang diturunkannya, majoriti
ulama mengatakan bahwa ia diturunkan. sebagaimana dipilih oleh Ibnu Jarir Rahimahullah,
erti Firman Allah SWT, "Aku menurunkannya kepada kalian." Janji Allah Subhanahu wata'ala adalah benar dan jujur.

Raja bingung kemudian terpinga-pinga dalam perkataannya, "Maha Suci Allah
SWT" Kemudian Raja menyuruh untuk dihadirkan seorang Qissis (pendeta Nasrani)untuk berbicara dengan Qadi. Tingkatan ahli agama menurut orang Nasrani adalah: Baba - Bathrak, Mathran - Uskup -Qissis - Syammas.
(Tafsir Ibnu Katsir)

Dialog antara al-qadi dgn Qissis.

Al-Qadhi berkata kepadanya, "Bukankah anda mengaku bahwasanya bumi ini bulat?
Dia menjawab, "Ya."

Qadi berkata, "Apakah anda mengingkari bahwa sesuatu boleh dilihat di alam
ini sedangkan ada yang tidak dapat melihatnya, contohnya gerhana yang
dilihat di sebuah tempat namun tidak terlihat di tempat lain. Begitu juga
dengan planet di langit bisa dilihat di suatu tempat tapi tidak bisa di
tempat yang lain. Atau anda mengatakan bahwa apabila gerhana terjadi, maka
akan terlihat oleh seluruh penduduk bumi? "

Sang Qissis berkata, "Bahkan tidak boleh dilihat kecuali oleh orang yang
bertepatan dengannya."

Qadi berkata, "Kenapa kalian mengingkari terbelahnya bulan, ketika ia berada
di satu sisi dan tidak dilihat kecuali oleh orang yang berada di arah
tersebut dan oleh orang yang sudah siap untuk melihatnya. Adapun orang yang
berpaling darinya atau berada di tempat yang bulan tidak boleh dilihat di
sana, maka dia tidak melihatnya. Akhirnya Qissis mengakuinya.[Dalam riwayat asy-Syaukani di 'Uyunul Munazharah, hal. 248)

Qissis berkata, "Dia(Qadi) benar, tidak ada seorang pun yang boleh membantah tuan. Masalahnya adalah pada riwayat yang menyampaikannya. Adapun celaan pada selain itu, maka tidak benar. "

Raja kembali bersuara, "Bagaimana dia dicela dari segi periwayatan? "

Qissis berkata, "Tanda-tanda yang semirip dengan ini apabila benar, maka
wajib disampaikan oleh jumlah yang banyak sehingga sampai kepada kita secara
ilmu. Seandainya itu terjadi niscaya akan terjadi pada kita ilmu dharuri
dengannya. Ketika tidak terjadi ilmu dharuri dengannya, maka informasi
tersebut tidak benar dan batil."

Sang raja menoleh dan berkata, "Berikan jawaban!"
Qadhi berkata, "perkara yang sama akan terjadi pada masalah al-Maidah
seperti terjadi pada terbelahnya bulan."

Dikatakan tentangnya, "Jika turunnya Maidah benar, niscaya disampaikan oleh jumlah yang banyak. Tidak ada yang tersisa seorang dari kalangan Yahudi, Nasrani dan Tsanawi [Tsanawi-madzhab yang mengatakan ada dua tuhan; tuhan kebaikan dan tuhan kejelekan, azali dan qadim.(Lihat, al-Milal wan Nihal al-Syahirstani, 1/224-225)]

Lalu semua orang-orang Nasrani, raja dan yang ada di majlis terheran dan
terdiam. Majlis berakhir sampai masalah ini.(Tartibul Madarik, 7/64-65).

2- isa bukan anak tuhan.

Raja berkata, "Apa yang anda katakan tentang al-Masih Isa bin Maryam 'alaihis
salam?"
Qadi menjawab, "Beliau Ruh dari Allah Subhanahu wata'ala,
KalimatNya, hambaNya, NabiNya, RasulNya seperti Nabi Adam AS
yang diciptakannya dari tanah dan berfirman kepadanya, "Jadilah, maka jadilah dia". Qadi membacakan kepada sang raja firman Allah Subhanahu wata'ala,

"Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti
(penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah
berfirman kepadanya:"Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia".

(Ali'Imran: 59)

Raja berkata, "Wahai muslim, apakah anda mengatakan bahwa al-Masih seorang
hamba?
Qadi menjawab, "Ya, itulah yang kami katakan dan kami yakini."
Raja berkata, "Anda tidak mengatakan bahwa dia adalah anak Allah?"
Qadi menjawab, "Maha Suci Allah yang berfirman,

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah
(yang lain) beserta-Nya. " (Al-Mu'-minun: 91)

Sesungguhnya kalian mengucapkan perkataan yang besar (salahnya). Jika anda
menjadikan al-Masih sebagai anak Allah, maka siapa yang
menjadi ayahnya, saudaranya, kakeknya, bapa saudaranya dan makciknya? Qadi
menyebutkan sejumlah kerabat sehingga Raja kebingungan. "

Raja berkata, "Wahai Muslim, seorang hamba bisa mencipta, menghidupkan,
mematikan, menyembuhkan orang buta dan berpenyakit sopak?"

Qadi menjawab, "Tidak mungkin dia mampu untuk melakukan hal itu. Semua itu
adalah perbuatan Allah Subhanahu wata'ala. "
Raja berkata, "Bagaimana al-Masih menjadi seorang hamba Allah, salah satu dari ciptaanNya, padahal dia telah mendatangkan bukti-bukti seperti ini dan melakukan hal tersebut semuanya?"
Qadi berkata, "Maha Suci Allah Subhanahu wata'ala, al-Masih tidak pernah
sama sekali menghidupkan orang mati dan tidak pernah menyembuhkan orang buta
dan berpenyakit sopak."
Raja menjadi bingung dan marah, kemudian berkata, "Wahai Muslim, apakah anda mengingkari hal ini padahal sudah diketahui oleh semua makhluk dan diterima oleh semua orang?"

Qadi berkata, "Tidak ada seorang Ahli Fiqih dan orang berilmu yang
mengatakan bahwasanya para nabi melakukan mu'jizat dari dirinya sendiri,
namun ia adalah sesuatu yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wata'ala lewat
tangan mereka sebagai pembuktian bagi mereka dan itu berlaku sebagai
persaksian."

Raja berkata, "Telah hadir sekelompok orang dari keturunan nabimu dan
orang-orang yang terkenal di antara kalian, semuanya mengatakan bahwa hal
itu ada pada kitabmu."

Saya berkata, "Wahai Raja, di dalam kitab kami semua itu atas izin Allah
Subhanahu wata'ala. Saya kemudian membacakan kepadanya nash-nash (dalil
dari) al-Qur'an yang bercerita tentang al-Masih, di antaranya firman Allah
Subhanahu wata'ala,

"(Ingatlah), ketika Allah mengatakan:" Hai 'Isa putera Maryam, ingatlah
nikmatKu kepadamu dan kepada Ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul
qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan
sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah,
Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah
(suatu bentuk) yang berupa burung dengan izinKu, kemudian kamu meniup
padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizinKu,
dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka
membunuh kamu) dikala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterang an
yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata:"Ini tidak lain
hanyalah sihir yang nyata". (Al-Maidah: 110)

Juga firman Allah Subhanahu wata'ala,

"Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada
mereka):"Sesungguhn ya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda
(mu'jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk
burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin
Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang
yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah;
dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di
rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran
kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." (Ali 'Imran: 49)

Saya berkata, "Sesungguhnya al-Masih melakukan hal itu semuanya dengan izin
Allah Subhanahu wata'ala semata dan tidak ada sekutu bagiNya, bukan dari
diri al-Masih. Seandainya al-Masih bisa menghidupkan orang mati dan
menyembuhkan buta dan penyakit sopak dari dirinya dan kekuatannya, niscaya
boleh dikatakan bahwa Musa 'alaihis salam membelah laut dan mengeluarkan
tangannya putih bersih tanpa adanya kejelekan dari dirinya, bukan termasuk
mu'jizat para nabi 'alaihimus salam, termasuk perbuatan mereka bukan atas
kehendak Allah Subhanahu wata'ala. Ketika hal itu tidak boleh, maka tidak
boleh disandarkan mu'jizat yang muncul dari tangan al-Masih kepada dirinya."
(Tartibul Madarik, 7/65-66).

Raja berkata, "Semua para nabi sejak Adam 'alihis salam hingga nabi
setelahnya, mereka merendahkan diri meminta kepada al-Masih sehingga dia
melakukan apa yang mereka inginkan."

Saya berkata, "Bukankah pada lisan orang Yahudi ada orang besar yang mereka
tidak bisa mengklaim bahwa sesungguhnya al-Masih yang merendahkan diri
kepada Musa 'alaihis salam.

Dan setiap pengikut nabi berkata, "Sesungguhnya al-Masih yang merendahkan
diri kepada nabinya." Tidak ada perbedaannya antara kedua pengakuan ini."

[Tartibul Madarik, 7/66 dan di sebagian riwayat disebutkan bahwasanya dia
berkata di awal jawabannya, "Sesungguhnya di lisan orang Yahudi ada orang
besar."]

3- Salah seorang dari uskup mereka bertanya kepada al-Qadhi dan berkata, "Apa
yang telah dilakukan oleh istri nabimu? Bagaimana ceritanya sehingga dia
dituduh berbuat selingkuh?"

Al-Qadhi berkata sebagai jawaban spontanitas, "Ada dua wanita yang dituduh
dengan kejelekan yaitu Maryam dan Aisyah, kemudian Allah Subhanahu wata'ala
membebaskan keduanya dari tuduhan tersebut. Aisyah adalah seorang yang
bersuami namun tidak memiliki anak, sementara Maryam membawa anak padahal
tidak memiliki suami."

Maksudnya bahwasanya Aisyah lebih utama untuk dibebaskan dari tuduhan
tersebut daripada Maryam. Keduanya terbebas dari apa yang dituduhkan
kepadanya. Jika di benak yang rusak terlintas keraguan pada hal ini (tuduhan
kepada Aisyah), maka kepada yang itu (tuduhan kepada Maryam) lebih rusak.

Keduanya -Alhamdulillah- disucikan dan dibebaskan dari langit lewat wahyu
dari Allah Subhanahu wata'ala untuk keduanya -semoga keselamatan kepada
keduanya.

[Tabyin Kizbul Muftari, hal. 219; 'Uyunul Munazharat, hal. 249; Siyar A'lam
an-Nubala`, 17/192 dan al-Bidayah wan Nihayah, 11/350 dan ini adalah
lafadznya]

4- Al-Qadhi berkata, "Kami kemudian berbicara pada majlis ketiga. Saya berkata
kepada raja, "Kenapa Lahut dan Nasut bisa menyatu?" [Nasut adalah tabiat
kemanusiaan dan lawannya adalah Lahut berarti ketuhanan. Orang Nasrani
mengaku bahwasanya al-Masih adalah tuhan yang nampak untuk manusia dalam
bentuk manusia. Kedua tabiat telah menyatu yaitu ketuhanan dan kemanusiaan]

Raja berkata, "Dia ingin menyelamatkan manusia dari kebinasaan."

Saya berkata, "Apakah dia mengetahui bahwasanya dia akan dibunuh dan disalib
kemudian hal itu terjadi padanya? Jika anda mengatakan bahwasanya dia tidak
mengetahui apa yang akan diinginkan oleh Yahudi dengannya, maka ia tidak
boleh untuk menjadi tuhan. Apabila dia tidak boleh menjadi tuhan, maka dia
tidak boleh untuk menjadi anak tuhan. Jika anda mengatakan bahwa dia
mengetahui dan hal ini telah masuk ke pengetahuannya, maka dia bukanlah
orang yang bijaksana. Karena kebijaksanaan akan mencegah seseorang untuk
terjatuh kepada bala'.
Raja kemudian terdiam kebingungan, dan inilah majlis terakhir saya
bersamanya." (Tartibul Madarik, 7/67)

5- Raja menyuruh al-Baqillani mendekat dan memintanya dengan sangat ramah,
kemudian mendudukkannya di atas kursi yang sedikit di bawah singgasananya.
Raja berada dalam kebesaran dan pakaian khususnya, memakai mahkota dan
perhiasannya. Para pembesar-pembesarny a duduk sesuai tingkatannya.

Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba muncul al-Bathrak -pemuka
agama mereka-. Raja telah memuliakannya dengan berusaha untuk menjaganya
dari orang genius ini (al-Baqillani) dengan berkata,

"Jagalah dirimu darinya, hadirkan pikiranmu, mungkin anda mendapatkan
darinya kesalahan atau menemukan darinya kekeliruan yang bisa menghilangkan
penghormatan kami kepadanya."

Al-Batrak tiba pada rombongan terakhir. Di sekelilingnya ada
pengikut-pengikutny a yang membaca injil sambil mereka mengasapnya dengan
gaharu basah dan parfum Maryam. Dia memakai pakaian yang sangat indah.
Ketika berada di tengah-tengah majlis, raja dan para pembesarnya berdiri
sebagai penghormatan kepadanya. Setelah mereka memberikan haknya dan
mengusap ujung pakaiannya, maka raja mendudukkannya di sampingnya dan
meman-dang kepada al-Qadhi dan berkata,

"Wahai Faqih, beliau adalah al-Bathrak pemuka agama dan penanggung jawab
keagamaan kami."

Al-Qadhi mengucapkan salam kepadanya dengan salam yang hangat dan bertanya
kepadanya dengan penuh keramahan. Beliau bertanya kepadanya, "Bagaimana
kabar keluarga dan anak-anak?"

Pertanyaan ini sangat menyinggung perasaannya dan perasaan semuanya. Mereka
semua berubah (wajahnya) dan memalingkan wajah mereka darinya dan
mengingkari perkataan Abu Bakar kepadanya.

al-Qadhi berkata, "Apa yang kalian ingkari dari perkataan saya? "

Raja berkata, "Kami mensucikan mereka dari istri dan anak."

Al-Qadhi berkata, "Wahai sekalian manusia, kalian menganggap agung manusia
ini untuk memiliki istri dan anak dan mensucikan mereka dari yang demikian?
Namun tidak mengagungkan Tuhan kalian dan menisbahkan kepadaNya yang
demikian itu (memiliki istri dan anak)? Alangkah jeleknya pendapat seperti
ini dan alangkah jelasnya kesalahannya! "

Mereka semua terdiam, terpaku dan tidak berkutik, mereka tidak bisa
memberikan jawaban. Mereka telah dikalahkan oleh kewibawaannya yang agung.
(Tabyin Kizbul Muftari, hal. 218-219; Tartibul Madarik, 7/67-68; 'Uyunul
Munazharat, hal. 248; Siyar A'lam an-Nubala`, 17/191).

Berikutnya raja berkata kepada al-Bathrak, "Bagaimana pendapatmu tentang
setan ini (al-Baqillani) ?

Al-Bathrak menjawab, "Selesaikan keperluannya, perlakukan dengan baik
temannya, berikan mereka hadiah dan keluarkan orang Irak ini dari negaramu
hari ini juga -kalau bisa-. Kalau tidak, maka orang-orang Nasrani tidak akan
aman dari fitnah dengannya."

Raja pun melakukan hal tersebut, memberikan balasan yang baik kepada
'Adhudud Daulah dengan berbagai hadiah dan memulangkan al-Qadhi Abu Bakar
dengan segera. Dia mengirimkan bersamanya tawanan-tawanan muslim dan mushaf
Al-Qur'an. Dia juga menyerahkan kepada al-Qadhi beberapa orang prajurit
untuk menjaganya sehingga sampai ke tempat tinggalnya.
(Tartibul Madarik,
7/67-68).
Asy-Syaharstani dalam al-Milal

Sabtu, 3 April 2010

dialog bersejarah athaillah vs taymiyah

I have not slept —
And even if You drive me from your door,
I swear again that we will never be separated.
Because You are alive in my heart.

IBNU ATHAILLAH DENGAN IBNU TAYMIYAH

Asy-Syeikh Ibn Athaillah merupakan seorang ahli sufi, ahli hadith, ahli fiqh Mazhab Maliki dan seorang khalifah Tariqat Syazilliyah. Di antara karyanya yang termasyhur ialah kitab Hikam.
Satu ketika Syeikh Ibn Taymiah telah diampuni raja lalu dibebaskan. Setelah dibebaskan, beliau dari Iskandariah terus kembali ke Kaherah lalu solat Maghrib di Masjid Al Azhar. Kebetulan yang mengimami shalat ialah Syeikh Ibn Athaillah.

Tampaknya Ibn Taymiah tidak ada masalah berimamkan seorang ahli sufi. Kalau benar Ibn Taimiyah membid’ahkan pegangan dan faham thariqat, mengapa mudah-mudah saja beliau menjadi makmum kepada Ibn Athaillah?

Selesai shalat Ibn Athaillah memandang Ibn Taymiyah di belakangnya lalu menegurnya. Merekapun kemudian bertukar-tukar fikiran. Berikut adalah diantara petikan dialog mereka:

IBN ATHAILLAH:
Biasanya aku shalat di masjid Imam Hussein dan shalat Isya’ di sini, tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku. Allah mentakdirkan akulah orang pertama yang menyambut engkau (selepas dibebaskan dari penjara dan datang ke mari). Ceritakanlah kepadaku wahai faqih, apakah engkau menyalahkan aku atas apa yang telah terjadi?

IBN TAYMIYAH:
Aku tahu, engkau tidak berniat buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan diantara kita tetap ada. Mulai hari ini, dalam masalah apapun aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, sesiapapun yang melakukan keburukan terhadapku.
(Ini menunjukkan betapa tingginya budi Ibn Taymiyah)

IBN ATHAILLAH:
Apa yang engkau tahu tentang aku wahai Syeikh Ibn Taymiyah?

IBN TAYMIYAH:
Aku tahu engkau adalah seorang yang shaleh, berpengetahuan luas, dan senatiasa berkata yang benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain engkau, baik di Mesir mahupun di Syria, yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Namun kita tetap mempunyai pandangan yang berbeda.

Apa yang engkau tahu tentang aku?
Apakah engkau atau aku sesat- dalam menolak kebenaran meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?

IBN ATHAILLAH:
Tentu saja sahabatku engkau tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil wasilah (pengantara) dan meminta syafaat, dan sesungguhnya Rasulullah saw adalah seorang yang kita harapkan bantuannya kerana bagindalah pengantara kita dan syafaatnyalah yang kita harapkan.

IBN TAYMIYAH:
Dalam hal ini aku berpegang kepada sunnah Rasul yang ditetapkan dalam syariat.
Dalam hadith yang berbunyi: “Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat.” Dalam ayat al Quran juga dinyatakan: "Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra [17] : 79).

Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibu Khalifah Ali ra meninggal dunia, Rasulullah berdoa kepada Allah di kuburnya:
"Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibuku (ibu saudaraku) Fatimah binti Asad, lapangkanlah kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun".
Inilah syafaat yang dimiliki Rasulullah saw.
Sementara mencari pertolongan daripada selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan. Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan kepada selain Allah.

IBN ATHAILLAH:
Semoga Allah mengaruniakan engkau kejayaan, wahai faqih! Maksud dari teguran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar dia mendekatkan diri kepada Allah bukan melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan.

Sedangkan mengenai pemahaman engkau tentang istighasah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah- yang termasuk perbuatan musyrik, aku ingin bertanya kepada engkau:

Adakah muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya yang berpendapat -ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkan-Nya menurut dirinya sendiri?

Adakah mukmin sejati yang meyakini, ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain daripada Allah?

Di samping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak dapat dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah kemusyrikan.

Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimiliknya dari Allah, sebagaimana jika engkau mengatakan: "Makanan ini memuaskan seleraku".
Apakah itu bermaksud makanan itu sendiri yang memuaskan selera engkau? Ataupun Allahlah yang memberikan kepuasan melalui makanan?

Sedangkan kenyataan engkau bahwa Allah melarang orang Islam untuk mendatangi seseorang selain daripada Diri-Nya untuk mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah?

Ayat Al Quran yang engkau rujuk adalah berkenaan dengan kaum musyrikin, dan mereka yang memohon kepada dewa, dan berpaling daripada Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangka bertawasul atau mengambil pengantara, atas keutamaan rasul yang diterimanya daripada Allah dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasul-Nya.

Sementara itu, jika engkau berpendapat bahwa istighasah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah kepada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan minuman keras, dan mengembiri lelaki yang tidak menikah untuk mencegah zina.

*Kedua-dua syeikh tertawa atas ulasan terakhir ini.

IBN ATHAILLAH:

Aku kenal betul dengan segala kemasyhuran dan gambaran mengenai sekolah fiqh yang didirikan oleh syeikh engkau, Imam Ahmad (pengasas Mazhab Hanbali), dan aku tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya "prinsip-prinsip agar terhindar daripada godaan setan" yang engkau miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang engkau pikul selaku seorang ahli fiqh. Namun, aku juga menyadari bahwa engkau dituntut menyelidiki di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung di balik kondisi harfiahnya.

Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Engkau dapat menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini engkau telah memperoleh dasar bagi pernyataan engkau terhadap karya Ibn Arabi (seorang tokoh sufi besar yang sering dikaitkan oleh musuh-musuhnya, dan orang-orang jahil di kemudian hari dengan Wahdatul Wujud, padahal beliau sendiri tidak pernah menyebut istilah tersebut),

Fususul Hikam. Naskah tersebut telah disabotaj oleh musuhnya, bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga kenyatan-kenyataan yang tidak (pernah) dimaksudkannya. (Lebih malang lagi, banyak pula orang-orang jahil hari ini yang mempercayai segala sabotaj musuh-musuh Ibn Arabi tersebut secara taqlid buta)

Ketika Syeikhul Islam Al Izz ibn Abdul Salam memahami apa yang sebenarnya yang diucapkan dan dianalisis oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya di balik ungkapan simboliknya, dia segera memohon ampun kepada Allah swt atas pendapatnya sebelum itu dan meletakkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.

(Sebelum itu Izz Abdul juga bersikap seperti Ibn Taymiyah, menentang Ibn Arabi dan karyanya. Biasalah, kebanyakan manusia memusuhi apa yang dia tidak tahu, apa yang dia belum tahu karena tidak cukup pengetahuan, atau salah faham, atau memang jahil, atau berlagak pandai, atau taqlid buta dengan buku atau tokoh yang diminatinya, atau ingin menjadi jaguh, atau disalahfahamkan oleh orang lain dan sebagainya. Jelas dalam hal ini Ibn Taymiyah tidak membuat kajian mendalam terlebih dahulu sebelum mengeluarkan fatwa/ pendapatnya tentang Ibn Arabi serta karya-karyanya)

Sedangkan mengenai kenyataan al Syazili yang menjatuhkan (kredibiliti) Ibn Arabi, engkau harus tahu, ucapan tersebut tidak keluar daripada mulutnya melainkan daripada salah seorang murid Syadziliyah.

Lebih jauh lagi, kenyataan itu dikeluarkan ketika para murid membicarakan (perilaku) sebagian pengikut Syadziliyah. Dengan demikian, kenyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri.
(Sebelum itu Ibn Taimiyah mengukuhkan penolakannya terhadap Ibn Arabi melalui kenyataan yang kononnya dibuat oleh Imam asy Syazili. Rupa-rupanya Ibn Taymiyah menerima maklumat yang salah. Beberapa kali Ibn Taimiyah membuat keputusan tanpa kajian yang mendalam dalam banyak hal. Kelemahannya inilah antara penyebab dia dipenjarakan)

"Apa pendapat engkau mengenai khalifah Syaidina Ali bin Abi Talib?"

IBN TAYMIYAH:
Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya". Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? (Tapi Ibn Taymiyah sendiri seorang tokoh yang berjuang melalui lidah, pena dan pedang sekaligus).

Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku selepas al-Quran dan as-Sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.

IBN ATHAILLAH:
Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu golongan? Sementara golongan ini menyatakan bahwa malaikat Jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali!
Atau pernahkah dia ( Ali) meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi Tuhan?

Ataupun dia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa bahwa mereka harus dibunuh di manapun mereka ditemui?
(Ini bicara tentang kelompok Syiah yang ekstrem)

IBN TAYMIYAH:
Berdasarkan fatwa inilah saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih daripada 10 tahun. (Melalui jawaban ini jelas Ibn Taymiyah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ibn Athaillah).

IBN ATHAILLAH:
Dan Imam Ahmad- semoga Allah meredhainya-mempersoalkan perbuatan sebagian pengikutnya, memecahkan tong-tong anggur, menumpahkan isinya ke lantai, memukul gadis para penyanyi, dan menyerang masyarakat di jalan.

Meskipun sang Imam tidak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Kesannya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya.

Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan alasan melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?

(Kesalahan pengikut tidak semestinya dipertanggungjawabkan kepada pemimpin. Ini kerana ada pengikut yang berfaham dan bertindak di luar daripada faham dan tindakan pemimpin. Apabila kita menegur kesalahan para Syiah yang ekstrem ini, mereka membalas dengan menuduh kita menentang Saidina Ali dan ahlul bait.

Apabila kita menegur kesalahan tariqat-tariqat sufi yang sesat, mereka membalas dengan mendakwa kita menentang Al Ghazali dan Ibn Arabi.
Apabila kita menegur kesalahan para Salafi yang ekstrem hari ini yaitu kaum Wahabi, mereka membalas dengan mendakwa kita menentang Ibn Taymiyah dan menolak kitab Tauhid Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab.Begitulah antara kaedah psikologi puak-puak yang rusak ini untuk menegakkan benang basah dan meneruskan kelangsungan hidup faham mereka)

Dengan itu, Syeikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan oleh para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama.
Apakah anda tidak memahami hal ini?

IBN TAYMIYAH:
(Ibn Taimiyah tidak menjawab soalan tersebut karena apa yang diperkatakan oleh Ibn Athaillah memang benar, dan Ibn Taymiyah memahaminya)

IBN TAYMIYAH:
(Ibn Taimiyah tidak menjawab soalan tersebut kerana apa yang diperkatakan oleh Ibn Athaillah memang benar, dan Ibn Taymiyah memahaminya)

Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan masuk surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam ledakan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat Jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat Jibril mengangkat satu daripada jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. Berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum "faqir".

IBN ATHAILLAH:
Tidak semua sufi memakai jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang aku pakai (sekarang), apakah engkau tidak bersetuju dengan penampilanku? (Ketika itu Ibn Athaillah memakai pakaian yang cantik. Ini menolak dakwaan bahawa semua ahli sufi berpakaian buruk dan selekeh pada setiap masa)

IBN TAYMIYAH:
Tapi engkau adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.

IBN ATHAILLAH:
Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Dia mengamalkan fiqh, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, dia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri daripada kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati dapat menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.

Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi palsu yang engkau sendiri telah mengecam dan menolaknya, di mana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan shalat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka mengaku telah bebas daripada belenggu kewajiban beribadah. Begitu dahsyatnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah (Risalah al- Qusyairiyah).

Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan amalan spiritual.

Kelompok di atas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya kepada Allah dan rasul-Nya. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shalih, sehat dan sentosa. Inilah jalan untuk membersihkan manusia daripada hal-hal yang dapat menodai manusia, seperti cinta akan harta, gila akan kedudukan tertentu. Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketenteraman beribadah.

Sahabatku yang bijaksana, menterjemahkan naskhah secara harfiah kadang-kadang menyebabkan kekeliruan. Pentafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian engkau terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan keshalihannya. Engkau tentunya faham bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolik; sedangkan para sufi adalah pakar-pakar dalam menggunakan bahasa simbolik yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak nampak.

(Biasanya manusia yang tidak dilatih dengan jalan tasauf tidak dapat memahami kata-kata dan istilah para sufi. Bahasa sufi sangat tinggi, penuh simbolik dan membawa maksud yang berlainan sama sekali dengan bahasa harian manusia. Ibn Taymiyah tidak menerima tarbiyyah melalui jalan kesufian, maka banyak perkara yang tidak difahaminya tentang dunia sufi. Inilah yang menyebabkan beliau kadang-kadang menentang perkara-perkara yang benar.

Sama halnya seperti seorang ahli sains yang ingin memahami perbicaraan antara dua orang Sasterawan Negara. Ahli sains tadi biasanya pasti akan tersalah faham dengan apa yang dikatakan.
Samalah seperti seperti seorang rakyat Negara China yang belajar Bahasa Melayu di sana, kemudian datang ke Malaysia. Di Malaysia dia menyaksikan latihan silat sebuah perguruan. Kemudian ketika pulang, dia menulis sebuah artikel menunjukkan bahwa bangsa Melayu sendiri sudah banyak yang tidak menguasai bahasa ibunda mereka. Sebenarnya dia yang salah faham. Ketika ahli-ahli silat membuat gerakan kepada lawan, mereka menamakannya “buah”. Orang China tadi mengkritik penggunaan perkatan “buah’ karena menurut ilmu Bahasa Melayunya, “buah” ialah untuk buah-buahan, bukannya untuk gerakan memukul, menjatuhkan dan mengunci.
Begitu juga apabila ahli silat diminta menyerang maka disebut “masuk”. Dalam artikelnya, orang China itu menulis- sepatutnya perkataan “masuk” hendaklah digantikan dengan “serang”.

Kesimpulannya, dia menghukum orang-orang Melayu tadi melakukan kesalahan bahasa.
Begitulah yang terjadi kepada Ibn Taymiyah. Tapi yang peliknya, kekhilafan Ibn Taymiyah ini masih diteruskan pula oleh masyarakat yang mengaku meneladaninya pada hari ini)

IBN TAYMIYAH:
Argumentasi tersebut sepatutnya ditujukan kepada engkau. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat (ada diantara) pengikutnya melenceng dari jalan Allah, dia dengan segera mengambil langkah untuk membendung mereka.
Sementara, apa yang dilakukan oleh para syeikh sufi sekarang? Aku meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah para leluhur kami (salafi) yang shalih dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.

Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaharuan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti falsafah Yunani dan pengikut Buddha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau bersatu dengan-Nya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syeikh anda: semuanya jelas perilaku atheis dan kafir.

IBN ATHAILLAH:
Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang fahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum Islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorang Zahiri (menterjemahkan hukum Islam secara lahiriah), metode yang diterapkannya untuk memahami hakikat adalah dengan menyelidik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), untuk mensucikan bathin (thathhir al bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama apa-apa yang tersembunyi. Agar engkau tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan engkau mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya (maksudnya, Ibn Taymiyah kenalah ulang semula penyelidikannya tentang karya-karya Ibn Arabi menggunakan perkara-perkara baru yang baru difahaminya ketika ini, kerana hasilnya nanti pasti berbeda dengan keputusan yang lalu). Engkau akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Dia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-Quran dan sunnah, sama seperti Hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Adakah engkau setuju wahai faqih? Atau engkau lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasihat: “Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”

Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat, cara terpantas untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan bermaksud hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.

Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syeikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang ilmuan secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran (ilmuan tersebut fanatik dengan Imam Ghazali).

Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sejadahnya menandai aspek batin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja. Karena apalah artinya duduk berdiri anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran: "(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya"; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: "(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya".

Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: "Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek batin, bukan lahirnya".

Seorang muslim takkan mampu mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.

Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhi-Nya. Barangkali yang menyebabkan (sebagian) ahli fiqh mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhadap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum masalah-masalah yang terjadi (aktual) dan masalah-masalah yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal ia belum terjadi).
(Ini memang berlaku. Ada ahli fiqh yang bersungguh-sungguh fakir dan cari penyesaian masalah-masalah yang tak perlu difikir. Contohnya, seorang lelaki shalat berjamaah. Ketika shalat dia mengikat tali kudanya di ibu jarinya. Sedang solat tiba-tiba kudanya buang air besar. Apakah batal shalatnya kerana najis kuda itu tertanggung melalui tali yang diikat di kakinya?
Inikan namanya “tak ada masalah cari masalah”? Padahal masa memikirkan hal ini lebih baik dibuat mempelajari bidang-bidang lain yang belum kita kuasai terutamanya tasauf.

Ada pula orang yang habiskan masa berfikir dan mencari penyelesaian dalam hal ini- Air mani dikumpul-kumpul dan cukup dua kolah. Bolehkah dibuat mengambil wudhuk?
Kalau suami isteri berjimak tiba-tiba melekat selama 48 jam, tak bisa dipisahkan. Bagamana cara mandi wajib, ambil wudhuk dan solat sepanjang masa itu?
Ada pula yang berfikir- macam manalah agaknya kalau satu hari nanti orang Melayu akan anggap bid’ah hasanah kepada perempuan yang menjadi imam shalat Jumaat kepada lelaki di dalam gereja? Ini sangat mengherankan!

Bukan tidak boleh sama-sekali memikirkan hal-hal ini, tapi ikutlah keutamaan. Masih ada banyak bidang yang belum kuasai. Inilah sebenarnya yang ditentang oleh ahli-ahli tasauf ke atas sebahagian ahli-ahli fiqh)

(Ibnu Arabi dan para sufi tidak menolak ilmu fiqh dan ahli-ahlinya sebagaimana tuduhan musuh-musuh mereka yang masih ada hinggalah hari ini, tetapi menentang keekstreman setengah ahli fiqh yang hanyut dalam dunia fiqh mereka hinggakan usaha mereka dalam agama menjadi sempit lagi amat terbatas. Seorang Muslim sepatutnya menjalani kehidupan dengan seimbang walaupun mereka ada pengkhususan dalam bidang tertentu. Apalagi banyak juga ahli fiqh yang langsung tidak ambil pusing soal-soal tasauf yang melibatkan penggunaaan hati, sampai mereka beranggapan bahwa amal-amal lahiriah tunduk bangkit itu sajalah yang membawa kejayaan dalam agama. Padahal Tuhan lebih memandang soal hati. Inilah yang dimaksudkan)
Ibn Arabi mengkritik begitu karena dia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai "ahli fiqih basa-basi wanita". Semoga Allah mengeluarkan engkau kerana telah menjadi salah satu dari mereka!

Pernahkan engkau membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa: "Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logik melainkan tercurah dari lubuk hati."
Adakah pernyataan yang seindah ini?

IBN TAYMIYAH:
Engkau telah berbicara dengan baik, andaikanlah guru engkau sama seperti yang engkau katakan, maka dia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan.